Langsung ke konten utama

Sang Mandor

Diceritakan suatu ketika ada seorang mandor  yang sedang membangun sebuah gedung. Suatu hari, ketika ia tengah mengecek pembangunan tersebut, ia mendapati bahwasannya lantai teratas gedung tersebut masih belum terurus. Dia pun menengok untuk memanggil salah satu pekerjanya supaya menyelesaikan pembangunan di lantai tersebut.


“Hai, pekerja! Kemarilah, di sini masih ada lantai yang perlu direnovasi!”, panggil sang mandor tersebut. Tetapi sepertinya si pekerja tidak mendengar  panggilan sang mandor. Sang Mandor pun berpikir, bagaimana caranya agar si pekerja menengok ke atas. 

Sang Mandor kemudian menjatuhkan sejumlah keping uang dari lantai atas, berharap agar si pekerja menoleh ke atas. Kepingan uang tadi jatuh tepat di depan pekerja itu. Bukannya malah menoleh ke atas, si pekerja tersebut malahan mengambil keping tersebut kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali. Sang Mandor menambah jumlah kepingan uang yang ia lempar, tetapi si pekerja malah melakukan hal yang sama, mengambil tanpa menghiraukan darimana asal kepingan uang yang jatuh tersebut. Karena kesal, akhirnya sang mandor mengambil kerikil dan melemparnya ke arah pekerja tersebut. “Pletak!”, kerikil itu tepat mengenai kepala si pekerja. 

Seketika itu juga si pekerja menoleh ke atas untuk melihat asal kerikil jatuh tersebut. Terkejutlah si pekerja karena yang melempar kerikil tersebut adalah sang mandor. “Hei, cepat kesini! Ada lantai yang perlu direnovasi!”, kata sang mandor kepada si pekerja. Akhirnya pekerja itu naik ke lantai teratas untuk memenuhi panggilan sang mandor.


Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah tersebut?


Terkadang kita lupa dengan banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Kita hanya terus ‘mengambil’ nikmat-nikmat tersebut tanpa ‘menghiraukan’ darimana nikmat-nikmat tersebut berasal. Lupa untuk bersyukur kepada Allah, lalai dengan segala kenikmatan yang kita punya, tanpa mau menoleh kepada Allah Yang Maha Memberi. Baru menoleh ketika sudah mendapatkan ‘lemparan kerikil’ dariNya. Maka, jangan sampai menunggu ‘lemparan kerikil’ untuk mengingat Allah. Senantiasa bersyukur kepada Allah dengan apa yang kita punya, entah itu yang baik ataupun yang kurang baik. Niscaya hati kita akan terus tenang dan Allah pun akan menambah nikmatnya kepada kita.


lain syakartum, la aziidannakum, wa lain kafartum, inna adzaabii lasyadiid..”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Sih Galau? Definisi, dll. Buat yang lagi galau atau enggak

Galau ditandai dengan banyak melamun, ngunci diri di kamar sambil dengerin lagu-lagu mellow , anggap diri paling malang sedunia sehingga paling layak dikasihani, dan berharap ada keajaiban yang datang sebagaimana yang bisa dilihat di sinetron-sinetron korea. Ini dinamakan galau karena cinta, karena cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi, nggak semua galau itu negatif kok.. Ada juga galau yang mesti dipelihara, galau yang positif. Galau yang menyelamatkan kita, baik di dunia atau di akhirat. Sekarang kita coba akan bahas jenis-jenis galau, dari yang positif, negatif, atau netral (gak jadi galau dong..)

Andi dan Piano

Pada suatu hari, ada seorang anak yang bernama Andi. Andi adalah anak yang rajin dan selalu membantu orang tuanya. Karena sifat rajinnya tersebut, Andi menjadi salah satu anak yang berprestasi di sekolahnya. Di samping itu, Andi pun juga memiliki hobi yang unik, yaitu bermain piano. Dia melatih hobinya tersebut sejak kecil, sampai sekarang, tangannya sudah semakin lihai bermain piano. Hari-harinya pun dia isi dengan alunan melodi dari alat musik yang besar itu.

Lima Menit

Siang hari itu adalah siang yang sangat panas. Sengatan terik matahari hampir membuat semua orang tidak mau keluar dari rumah mereka. Yah, hanya beberapa orang saja yang mendapat hidayah untuk pergi ke masjid pada waktu Dzuhur hari itu, dan Alhamdulillah, akulah salah satunya.